Hubungan antara Relasi Remaja –Teman Sebaya dengan Kecenderungan Perilaku Agresi Remaja Kristen Ditinjau dari Perbedaan Jenis Kelamin
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Sekolah Tinggi Teologi SAAT Malang
Abstract
Penelitian ini meneliti hubungan antara relasi remaja-teman sebaya dengan kecenderungan perilaku agresi remaja Kristen ditinjau dari perbedaan jenis kelamin. Relasi dengan teman sebaya bagi remaja adalah faktor yang dapat berperan besar dalam pembentukan perilaku remaja. Relasi yang baik dengan teman sebaya dapat memberikan dampak yang positif bagi perkembangan remaja. Sebaliknya, isolasi sosial akan memberi dampak negatif bagi remaja; dan bahkan berpotensi menimbulkan kecenderungan perilaku agresi.
Instrumen yang digunakan untuk mengukur relasi remaja dengan teman sebaya adalah Index of Peer Relations yang dibuat oleh Walter H. Hudson, dan alat ukur mengenai kecenderungan perilaku agresi remaja adalah Assertiveness Scale for Adolescence yang diadaptasi. Subyek penelitian adalah jemaat Komisi Remaja GKA GLORIA Kota Satelit Surabaya, yaitu remaja yang berusia antara 13 tahun sampai dengan 17 tahun. Teknik analisis yang digunakan adalah teknik korelasi Bivariate Pearson (untuk mengukur keeratan hubungan antara relasi remaja-teman sebaya dengan kecenderungan perilaku agresi remaja Kristen dan Independent Samples t-test (untuk membandingkan kecenderungan perilaku agresi remaja laki-laki Kristen dan remaja perempuan Kristen).
Hasil analisis data menyatakan bahwa tidak terdapat hubungan antara relasi remaja-teman sebaya dengan kecenderungan perilaku agresi remaja Kristen dan terdapat perbedaan yang signifikan antara kecenderungan perilaku agresi remaja laki-laki Kristen dengan remaja perempuan Kristen. Hasil ini berimplikasi bahwa relasi remaja-teman sebaya tidak berpengaruh terhadap kecenderungan perilaku agresi remaja Kristen yang diteliti karena beberapa sebab. Pertama, remaja jemaat gereja diasumsikan memiliki nilai moral yang sudah tertanam tentang perilaku baik dan buruk. Kedua, sejalan dengan pembahasan teologis ialah penebusan Kristus yang mengubah hidup orang percaya dan peran Roh Kudus dalam kehidupan manusia baru. Ketiga, pergaulan remaja Kristen dapat dikategorikan sebagai pergaulan yang cukup sehat sehingga tidak memengaruhi kecenderungan perilaku agresi. Jadi hipotesis pertama penelitian ditolak, sedangkan hipotesis kedua dapat diterima.