DSpace 9

This site is running DSpace 9. For more information, see the DSpace 9 Release Notes.

DSpace is the world leading open source repository platform that enables organisations to:

  • easily ingest documents, audio, video, datasets and their corresponding Dublin Core metadata
  • open up this content to local and global audiences, thanks to the OAI-PMH interface and Google Scholar optimizations
  • issue permanent urls and trustworthy identifiers, including optional integrations with handle.net and DataCite DOI

Join an international community of leading institutions using DSpace.

The test user accounts below have their password set to the name of this software in lowercase.

  • Demo Site Administrator = dspacedemo+admin@gmail.com
  • Demo Community Administrator = dspacedemo+commadmin@gmail.com
  • Demo Collection Administrator = dspacedemo+colladmin@gmail.com
  • Demo Submitter = dspacedemo+submit@gmail.com
Photo by @inspiredimages

Communities in DSpace

Select a community to browse its collections.

Now showing 1 - 4 of 4

Recent Submissions

  • Item type:Item,
    Peran Gereja dalam Mengatasi Masalah Kesepian pada Lansia: Menjadikan Lansia sebagai Subjek Pelayanan
    (Sekolah Tinggi Teologia SAAT Malang, 2024-10) Nathania, Belinda Jocelin;
    Penelitian ini lahir dari sebuah pergumulan mengenai permasalahan kesepian yang sering dialami oleh lansia. Tidak hanya itu, meningkatnya populasi lansia di dunia memengaruhi jumlah kehadiran lansia di gereja. Hal ini membuat penulis rindu agar gereja dapat mengakomodasi keberadaan lansia dengan baik. Kemudian, apa yang harus dilakukan oleh gereja, khususnya menolong dan mengakomodasi lansia dalam mengatasi masalah kesepian yang mereka alami? Jawaban singkatnya adalah dengan memberdayakan lansia sebagai subjek pelayanan di gereja. Memberdayakan lansia menjadi subjek pelayanan berarti mendorong dan memfasilitasi lansia untuk menjadi pelayan secara aktif. Dengan perkataan lain, lansia tidak hanya dijadikan objek pelayanan atau orang yang dilayani, tetapi juga menjadi pelaku pelayanan di dalam komunitas gereja. Hal ini akan menolong lansia untuk mengatasi masalah kesepian yang mereka alami. Tidak hanya itu, gereja juga akan merasakan dampak lain, yaitu sebuah pertumbuhan komunitas dalam gereja. Dikatakan demikian karena lansia memiliki banyak potensi yang dapat diwariskan pada generasi muda gereja demi keberlangsungan kehidupan komunitas kesatuan tubuh Kristus. Tidak hanya itu, warisan iman yang diberikan lansia kepada generasi muda juga dapat menjadi bekal untuk pelayanan penginjilan yang harus terus berlangsung. Oleh sebab itu, memberdayakan lansia sebagai subjek pelayanan merupakan keputusan yang seturut dengan visi dan misi Allah bagi gereja dan bagi lansia.
  • Item type:Item,
    Membangun Budaya Menulis Teologi Injili di Kampus : Dari Spiritualitas Akademik hingga Output Publikasi
    (Supremasi Injil dalam Dunia Akademik, diedit oleh Antonius Natan, 487-510. Jakarta: Geneva Insani Indonesia, 2026, 2025) Hauw, Andreas
    Tesis dari artikel ini adalah kegiatan akademik, dalam hal ini menulis (riset), adalah sebuah perjalanan spiritualitas dalam mempersiapkan seminarian/akademikus/penulis/dosen Kristen yang berilmu pengetahuan untuk mampu mengekspresikan konsep dan praksis keahliannya berdasarkan kajian yang bisa dipertanggungjawabkan secara akademik dan bernilai rohani sebagai bekal menjadi pemimpin Kristen yang berotoritas dan berintegritas serupa Kristus. Bersama dengan tesis di atas, artikel ini menyumbangkan hal-hal praktis berdasarkan pengalaman komunitas untuk membentuk budaya menulis dan mempresentasikannya sesuai tujuan yang dikehendaki. Tulisan ini memakai pendekatan literatur, khususnya perspektif ICETE (International Council for Evangelical Theological Education), dan pendekatan bios-empiris, yaitu penggabungan narasi tokoh biografi dan pengalaman empiris, dalam hal ini Daniel dan Plato, serta pengalaman penulis sendiri dalam komunitasnya. Dengan kajian literatur dan bios- empiris ini, narasi besar tentang akademik dan spiritualitas, akan menciptakan berbagai sintesis kecil bermakna, yang ketika dikoleksi oleh pembaca akan menyumbangkan gagasan dan dorongan tepat guna untuk menulis sesuai konteks masing-masing.
  • Item type:Item,
    Quo Vadis Kristen Tionghoa Indonesia
    (BPK Gunung Mulia, 2025) Hauw, Andreas; Djuharto, Gumulya; Baito, Linus
    Kristen, Tionghoa, dan Indonesia merupakan tiga kata yang menjalin berbagai tulisan dalam buku Quo Vadis Kristen Tionghoa Indonesia ini. Tulisan-tulisan tersebut menggambarkan realitas yang dihadapi Kristen Tionghoa Indonesia sekaligus imajinasi adanya transformasi dari “antara ada dan tiada” menjadi sepenuhnya Kristen Tionghoa Indonesia. Refleksi sosial, religius, konstruktif, kritik, historis, politis, seni, ideologis, stigmastisasi, dan teologis di dalamnya memperlihatkan usaha melakukan sebuah proses transformasi dari subaltern yang “antara ada dan tiada” menjadi komunitas yang sepenuhnya ada: Kristen Tionghoa Indonesia yang berdaya, inklusif, dan konstruktif.
  • Item type:Item,
    Appropriating Just Peacemaking Theory for Sustainable Peace in Papua: An Ethical Framework for Conflict Resolution
    (Evangelikal: Jurnal Teologi Injili Dan Pembinaan Warga Jemaat, 10(1), 75–101., 2026) Mamahit, Ferry Yefta; Mawikere, Christian Joel; Muetterties, Zachary T.
    The Papua conflict, with its deep roots in contested history, human rights violations, and economic marginalization, demands responses that are both ethically serious and practically grounded. This study asks whether Glen Stassen’s Just Peacemaking Theory can be applied to that context. Through qualitative conceptual analysis, it identifies practices within the theory most capable of translation to Papuan conditions—nonviolent direct action, human rights advocacy, sustainable development, grassroots peacebuilding—and works them into strategic orientations: empowering indigenous advocacy, insisting on inclusive development, strengthening local peace networks. For practical theology, the contribution is straightforward: it demonstrates how a normative ethical framework can be brought into genuine conversation with a live conflict, not as an abstract principle but as an adaptable resource. For Papuan churches, it offers a way of naming what they already do and a vocabulary for taking it further.
  • Item type:Item,
    Front Matter
    (Consilium: Jurnal Teologi Dan Pelayanan 30, 2025)